Riset Tren Kewirausahaan Global & Peluang Digital
Oleh: Nafian Firda Cahayani (AE50)
SOCIAL COMMERCE & INFLUENCER-IED BRANDS
Berdasarkan hasil riset yang saya lakukan terhadap laporan Google Temasek Bain e-Conomy SEA 2024 dan Forbes Business Trends 2024, dapat disimpulkan bahwa terdapat tren kuat dalam bentuk Social Commerce dan influencer-led brands. Di tengah perkembangan era digital, konsumen semakin mengandalkan rekomendasi influencer dibandingkan iklan konvensional, sementara media sosial telah bertransformasi menjadi saluran transaksi langsung.
Peluang bisnis yang saya identifikasi adalah pengembangan platform social commerce yang berbasis micro-influencer lokal untuk UMKM. Banyak UMKM sebenarnya memiliki produk yang berkualitas, namun masih menghadapi kendala dalam membangun kepercayaan konsumen serta menjangkau pasar digital secara optimal. Melalui pemanfaatan teknologi AI untuk proses pemilihan influencer, pembuatan konten pemasaran, serta integrasi fitur live shopping dan sistem pembayaran digital, platform ini dapat membantu UMKM meningkatkan penjualan tanpa harus mengeluarkan biaya promosi yang besar.
Peluang usaha ini dinilai sangat potensial karena hingga saat ini masih terbatas platform lokal yang secara khusus dan terintegrasi berfokus pada pemberdayaan micro-influencer dan UMKM.
1. Ringkasan Tren Global
Salah satu tren kewirausahaan global yang paling berkembang dalam satu hingga dua tahun terakhir adalah social commerce dan merek yang dipimpin oleh influencer. Tren ini menggambarkan pemanfaatan media sosial tidak hanya sebagai alat promosi, tetapi juga sebagai saluran utama terjadinya transaksi jual beli, di mana influencer atau content creator memiliki peran besar dalam membangun kepercayaan konsumen.
Secara global, perilaku konsumen kini cenderung lebih percaya pada rekomendasi yang bersifat personal dibandingkan iklan tradisional. Platform seperti TikTok, Instagram, dan YouTube telah berevolusi dari sekadar media pemasaran menjadi ekosistem perdagangan digital yang terintegrasi, melalui fitur seperti live shopping, iklan berbasis kecerdasan buatan, serta sistem pembayaran digital. Tren ini menjadi penting karena mampu menekan hambatan masuk bagi pelaku usaha baru, terutama UMKM dan startup digital, sehingga mereka dapat bersaing tanpa membutuhkan modal besar.
2. Bukti Data (Data & Fakta Pendukung)
Berbagai laporan kredibel dalam satu hingga dua tahun terakhir memperkuat posisi social commerce sebagai tren kewirausahaan global yang signifikan. Laporan Google–Temasek–Bain e-Conomy SEA 2024 mencatat bahwa social commerce menjadi salah satu pendorong pertumbuhan tercepat dalam ekonomi digital Asia Tenggara, dengan kontribusi besar dari platform seperti TikTok Shop dan Instagram Shopping.
Selain itu, Forbes Business Trends (2024) mengungkapkan bahwa tingkat kepercayaan konsumen terhadap rekomendasi influencer mencapai tiga kali lipat dibandingkan iklan merek konvensional. Hal ini menunjukkan pergeseran pola kepercayaan konsumen ke arah komunikasi yang lebih personal dan autentik.
Temuan dari Deloitte Digital Media Trends (2024) juga menunjukkan bahwa lebih dari 60% generasi Gen Z dan Milenial pernah melakukan transaksi pembelian secara langsung melalui media sosial. Sementara itu, Gartner (2024) menegaskan bahwa penerapan kecerdasan buatan (AI) dalam pemasaran digital mampu meningkatkan efektivitas kampanye hingga dua digit persentase melalui personalisasi konten dan analisis perilaku audiens yang lebih akurat.
Secara keseluruhan, data tersebut menegaskan bahwa social commerce bukan sekadar tren sementara, melainkan telah menjadi perubahan struktural dalam perilaku konsumen di tingkat global.
3. Analisis Peluang Bisnis
4. Strategi Adaptasi (Modal Minimal & Digital-First)
Usaha ini dapat dijalankan dengan kebutuhan modal yang relatif rendah melalui pemanfaatan pendekatan digital. Media sosial gratis seperti TikTok, Instagram, dan WhatsApp Business digunakan sebagai saluran utama untuk promosi dan interaksi dengan konsumen, sehingga biaya pemasaran dapat ditekan sejak awal.
Dalam operasionalnya, usaha ini memanfaatkan berbagai tools berbasis kecerdasan buatan. AI copywriting, seperti ChatGPT, digunakan untuk membantu pembuatan caption promosi yang menarik, sementara AI analytics dimanfaatkan untuk memantau tingkat engagement serta kinerja konten secara lebih akurat.
Dari sisi infrastruktur, platform ini dapat dibangun menggunakan website berbasis no-code seperti Webflow atau Wix, serta didukung oleh cloud storage untuk menyimpan data transaksi dan konten secara efisien. Model bisnis yang diterapkan adalah sistem komisi dan revenue sharing, di mana UMKM hanya membayar berdasarkan hasil penjualan yang diperoleh, sehingga risiko finansial menjadi lebih rendah.
Pendekatan ini memungkinkan mahasiswa maupun wirausaha pemula untuk membangun bisnis yang mudah dikembangkan (scalable), berbiaya rendah, dan tetap relevan dengan kebutuhan pasar lokal.
Daftar Referensi
Deloitte. (2024). Digital Media Trends Survey.
Komentar
Posting Komentar